You are currently browsing the monthly archive for Januari 2008.
Iya… yang namanya terbang untuk pertama kalinya memang membuat penasaran dan was-was. Membayangkan bagaimana rasanya berada di atas sana di antara awan-awan. Beruntung saya waktu itu memperoleh tempat duduk di dekat jendela sehingga nyaman sekali untuk dapat menikmati pemandangan di luar. Mungkin manager saya dan temannya mengerti bahwa ini ‘first flight’ buat saya.
Saya biarkan mereka berbincang-bincang sepanjang perjalanan.Ssst… mereka benar-benar doyan ngomong…Engga habis-habisnya ngobrol bahkan sampai pesawat mendarat pun obrolan masih belum selesai. Sabuk pengaman di dalam pesawat ternyata tidak sama dengan sabuk pengaman di dalam mobil. Hanya ‘mengikat’ badan kita dari sebelah kanan dan kiri pinggang. Lockernya pun tidak ada yang bisa dipencet. Kita tinggal mendorongnya untuk memasang sabuk pengaman dan menarik tuasnya ke atas apabila hendak melepaskannya. Biasanya pramugari akan membantu memperagakan caranya.
Perasaan seperti orang kampung masuk kota serasa terjadi lagi saat itu.
Melihat-lihat berbagai instrumen yang ada di dalam pesawat. Tanda-tanda dan lampu petunjuk di atas kepala. Tidak ada ide sama sekali waktu itu. Ketika pesawat mulai lepas landas, ada rasa yang saya sulit menemukannya dalam bahasa Indonesia yang baku. Tapi seperti kalau kita naik Kora-Kora di Taman Impian Jaya Ancol, terutama pada waktu turun…. Rumah, mobil dan jalanan kelihatan begitu kecil seperti mainan. Ketika pesawat mulai berada pada ketinggian tertentu, pada ketinggian di mana kita bisa berada di dalam awan, sebuah sensasi mengagumkan terjadi bagi saya.
Awan-awan tersebut tidak terlihat lagi seperti kapas (seperti yang kita bayangkan waktu kecil) tapi terlihat jelas seperti gumpalan-gumpalan asap raksasa yang rasanya kita bisa berdiri di atasnya. Saya akan ceritakan berbagai bentuk awan pada beberapa waktu yang berbeda di kategori yang lain. Dan ketakutan akan apa yang terjadi apabila kita menabrak awan itu ternyata tidak terbukti. Awan itu dengan mudahnya ditembus dengan goncangan kecil sekali.
Kekaguman saya tak habisnya terhadap Sang Pencipta tentang bagaimana semua fenomena alam ini terwujud dan teratur. Darat. laut, air, udara dan makhluk di dalamnya. Karya cipta yang sungguh beyond the thought….
Waktu itu saya belum mengerti apa artinya kabin dan tas seperti apa yang pantas dan layak diletakkan di dalam kabin. Pesawat memiliki dua tempat penyimpanan barang selama perjalanan. Bagasi adalah semacam ruang besar di bagian bawah pesawat untuk meletakkan seluruh tas koper milik penumpang. Dan ada pula di kabin bersama-sama dengan tempat duduk penumpang.
Petugas check-in selalu menanyakan apakah kita memiliki tas untuk check-in. Ini artinya tas yang ukurannya tidak cukup untuk untuk diletakkan di kabin penumpang dan harus dimasukkan ke ruang bagasi.
Saya masih sering terheran-heran dengan beberapa penumpang yang bisa membawa lebih dari 2 tas ke dalam kabin. Bahkan kedua tangannya sampai kewalahan. Satu tas kecil untuk notebook, satu lagi tas punggung untuk pakaian (mungkin) dan masih ada lagi tas lain yag entah untuk apa fungsinya. Sehingga orang tersebut sempat tertatih-tatih mencari nomer kursi tempat duduknya.
Suatu pemandangan yang menjengkelkan buat saya karena harus berdiri dan menunggu terlalu lama di lorong (aisle) sampai orang itu selesai mengatur dan memaksa tasnya masuk ke kabin penyimpanan. Sekali lagi indra pengertian kembali muncul dengan segala alasan buatan di benak saya. Mungkin orang ini memang tidak memiliki tas yang besar atau mungkin dia harus membawa milik kerabatnya. Pemakluman demi pemakluman kembali harus dilontarkan.
Rasanya alasan dan analisa yang paling jelas dilihat adalah karena orang itu malas untuk antri di depan luggage belt pada saat mendarat nanti. Hanya itu alasan yang masuk akal bagiku. Tapi yang pasti karena dia juga tidak memperdulikan sesama penumpang yang lain antri di belakang dia.
Sekedar tips buat anda sebelum menuju ke bandara. Buatlah packing barang-barang anda serapi dan sesederhana mungkin. Satu tas yang memadai untuk bagasi dan satu tas yang cukup untuk menyimpan barang-barang berharga di dalam kabin. Hal ini akan cukup membantu proses boarding. Juga membantu jasa penerbangan memberikan data ‘weight’ yang lebih akurat kepada pilot.
Pernahkan anda mendengar bahwa overweight bisa menyebabkan pesawat mengalami kecelakaan? Mari menjadi lebih bijaksana selama perjalanan udara.
Beberapa jasa penerbangan saat ini menawarkan kartu keanggotaan bagi penumpang pesawat terbang dengan tujuan kemanapun. Banyak hal yang bisa diperoleh dari kartu keanggotaan tersebut. Dari prioritas utama pada saat waiting list hingga mendapatkan tiket pesawat gratis. Jenis dan fasilitas yang diberikan juga bermacam-macam.Jika melihat informasi pada brosur tentang kartu keanggotaan memang menggiurkan dan ampuh untuk menarik minat para penumpang mengajukan permohonan menjadi anggota.
Saya pribadi kurang jelas apakah yang akan menjadi keuntungan bagi penyedia jasa penerbangan apabila mereka memiliki anggota yang pasif. Sebaiknya lihat beberapa hal berikut sebelum anda memutuskan untuk membuat kartu anggota Frequent Flyer.
Loyalty
Terbang saat ini bukan suatu hal yang hanya layak dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas. Namun apabila budget adalah prioritas utama anda untuk terbang, konsekuensinya anda akan sering berganti jenis penerbangan dari airline yang berbeda. Dalam hal ini menjadi anggota suatu penerbangan tertentu tidak bisa dinikmati secara penuh dan cepat.
Sebaiknya apabila sudah memutuskan untuk memiliki frequent flyer dari sebuah penerbangan, jangan segan untuk tetap memakai penerbangan tersebut setiap kali anda travelling.
Frekuensi
Sesuai dengan namanya, kartu keanggotaan sangat efektif buat mereka yang benar-benar tinggi frekuensi terbang sehingga semua fasilitas yang disediakan akan sangat bermanfaat. Sayang sekali apabil anda sering be(r)pergian dengan pesawat dalam jarak yang cukup jauh tapi tidak menyediakan waktu untuk mengajukan aplikasi keanggotaan.
Prestige
Pernah mendengar bahwa dengan memiliki Frequent Flyer berarti anda memiliki prestige? Saya belum pernah mendengar hal itu di majalah maupun dalam obrolan dengan teman. Hanya mereka yang telah memiliki Gold atau Platinum yang akan benar-benar terpenuhi kebutuhan prestigenya. Jadi jika anda ingin memiliki Frequent Flyer agar semua orang tahu bahwa anda pernah atau beberapa kali menggunakan pesawat, lebih baik rencana tersebut ditunda.
Status kartu Frequent Flyer dilihat dari jarak dan frekuensi terbang. Dihitung dalam satuan point atau milleage. Apabila anda telah mengumpulkan point dalam jumlah tertentu, keanggotaan akan diupgrade dan fasilitas yang disediakan akan lebih banyak yang bisa dinikmati. Rata-rata dari penerbangan mengatur grade kartu pada 3 tingkatan yaitu basic/blue membership, Silver membership dan Gold membership.
Satu fasilitas yang paling baik untuk dinikmati adalah tiket gratis ketika anda memiliki jumlah point tertentu. Dan ini benar-benar gratis.
Para flight attendant (pramugari) tidak pernah lupa untuk mengingatkan kita, para penumpang untuk senantiasa mematikan pesawat telepon genggam selama berada di dalam pesawat. Mereka bilang sinyal telepon atau radio receiver bisa mengganggu sistem navigasi pesawat.
Dari penjelasan itu, tetap saja masih banyak penumpang yang menyalakan handphone mereka di dalam pesawat sebelum pesawat bergerak menuju landasan. Dan setiap kali pula saya mendengar suara orang bercakap-cakap tapi tidak terdengar suara orang kedua. Saya berpikir, apa gerangan yang ada di benak para penumpang yang tetap menyalakan handphone bahkan menggunakannya untuk menghubungi orang di luar? Apakah karena penjelasan bahwa gangguan hanya pada sistem navigasi lalu ketika pesawat tidak bergerak berarti sistem navigasi tidak terganggu?
Pesawat yang berhenti tidak akan terganggu karena itu berarti pesawat ‘belum’ menggunakan sistem navigasinya?Kalau begitu pengertian kita akan sistem navigasi pesawat adalah alat pelacak lokasi, komunikasi dan pemetaan saja? Lalu bagaimana dengan beberapa instrumen pesawat lain seperti pengukur suhu udara luar, kecepatan angin, dan alat kontrol lain yang mungkin dioperasikan dengan sinyal radio? Dan mungkin instrumen-instrumen tersebut di jalankan bahkan ketika pesawat berhenti.
Entahlah, saya tidak punya pengetahuan atau informasi sejauh itu. Bagi saya ya sudah kita ikuti saja petunjuk pramugari di dalam pesawat karena bagaimanapun juga mereka yang lebih banyak tahu tentang pesawat dari pada penumpang. Sama halnya ketika kita menuruti polisi di jalan raya atau kernet bis umum. Kadang-kadang ini mengganggu sih, sudah di dalam pesawat dan ada orang telepon ke rumahnya:
“Iya, aku sudah di dalam pesawat, nih. Ntar dijemput satu jam lagi.”
Ini satu cuplikan pembicaraan lewat telepon genggam di dalam pesawat.
Hello….. sebelum kita keluar rumah menuju bandara pun pasti keluarga atau kolega di kota tujuan khan sudah kita beritahu bahwa hari ini terbang dengan menggunakan airlines ‘X’ dengan flight number ‘123′ lalu penerbangan kira-kira 1 jam, jadi waktu kedatangan di airport di kota tujuan sebenarnya sudah jelas.
Btw, suatu kali saya sempat duduk satu lajur bersama seorang teman dan kami ngobrol tentang penggunaan hanphone di dalam pesawat. Menurut informasi yang dia peroleh penggunaan handphone ada pula hubungannya dengan bahan bakar pesawat. Mirip dengan himbauan di pompa bensin tentang handphone, pesawat juga memiliki resiko yang sama terutama ketika kita melihat ada satu truk tangki sedang mengisi bahan bakar untuk pesawat. Ada resiko bahaya bahwa sinyal radio terutama handphone (lebih kuat dari radio transistor) mungkin bisa ‘bergesekan’ dengan gas bahan bakar pesawat pada waktu pengisian. Resiko paling besar bisa terjadi!
Tapi menurut dia, itu tidak terjadi pada pesawat handphone yang sudah ‘modern’. Beberapa jenis handphone yang lama (yang masih sebesar thermos) memiliki kelemahan tentang kebocoran sinyal dan dari handphone jenis inilah yang beresiko. Namun pramugari tidak mungkin memeriksa jenis handphone yang dimiliki oleh setiap penumpang. Itulah sebabnya handphone dilarang. Jenis handphone yang paling mutakhir telah mampu mengatasi masalah ini.
Bagaimanapun juga, jika anda melakukan perjalanan udara yang hanya memakan waktu sekitar 1-2 jam, merupakan cukup waktu untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap alat komunikasi ini. Dan yang paling penting, ini untuk keselamatan bersama.







Your Say