You are currently browsing the monthly archive for Februari, 2008.
Maraknya tiket pesawat yang murah dan berbagai promosi baik itu di media online ataupun media cetak memang terbukti sangat ampuh untuk merubah dan mengarahkan alokasi budget dari penumpang untuk beralih menggunakan jasa penerbangan.
Harga yang tercetak di media ataupun yang terpampang di tiang-tiang reklame sungguh sangat menggiurkan bagi seluruh calon penumpang. Bahkan apabila kita bandingkan dengan harga tiket kereta api kelas ekonomipun masih lebih murah. Lihat saja iklan yang terlihat pada hari ini tgl 23-Feb-2008 di Lion Air website dengan rute Jakarta – Singapore harga dimulai Rp. 49.000,- untuk sekali jalan. Atau promosi dari Air Asia rute Jakarta ke Solo, Surabaya atau Palembang cukup dengan Rp. 29.000,- untuk sekali jalan.
Sebuah kecelakaan pesawat yang menewaskan seluruh penumpangnya terjadi di Venezuela pada 22 Februari 2008 yang lalu. Pesawat dengan nomor penerbangan 518 tersebut tinggal landas dari Merida, Venezuela (500km dari Caracas ibukota Venezuela) dengan membawa 42 penumpang dan 4 orang crew pesawat. Merida merupakan sebuah kota pegunungan. Menurut direktur pertahanan nasional setempat kecelakaan pesawat diduga karena menabrak gunung pada ketinggian sekitar 4.750 m di atas permukaan laut.
Polisi setempat juga melaporkan lokasi kecelakaan yang tepatnya berada di Paramo de Mucuchies dekat Laguna de la Perlada di sebelah barat daya Merida. Penduduk mendengar suara ledakan yang sangat keras beberapa saat setelah penerbangan 518 yang dioperasikan oleh Santa barbara Airlines dilaporkan hilang. Sampai saat ini belum dijelaskan secara resmi penyebab kecelakaan.

Seringkali kita mendengar dan membaca berita tentang rusaknya tas bagasi penumpang dan barang hilang dari tas bagasi di bandara di Indonesia. Walaupun sudah ada beberapa orang yang tertangkap namun hal ini masih mengkuatirkan kita sebagai penumpang pada saat memasukkan tas ke ruang bagasi waktu check-in. Satu hal yang secara tidak langsung ‘membantu’ hal ini terjadi adalah sistem pengiriman bagasi dari badan pesawat menuju ruang pengambilan bagasi pada area kedatangan penumpang.
Baik itu penerbangan domestik maupun penerbangan internasional, yang saya lihat dan perhatikan di beberapa bandara di Indonesia adalah sama. Bagasi yang telah diturunkan dari pesawat menuju conveyor yang menghantarkan tas penumpang tidak ada sistem balik. Maksudnya tas bagasi yang telah melewati satu putaran conveyor kembali ke bagian belakang bandara yang tidak terlihat oleh penumpang.
Tas tersebut tidak sempat terambil oleh penumpang mungkin karena dia harus menunggu antrian di counter imigrasi sehingga ketika tasnya melewati conveyor belt tidak terambil dan masuk kembali ke ruang belakang.
Suatu praktek akal-akalan sederhana dari pihak pegawai di bandara membuat saya sedikit kesal saat hendak menuju ke counter imigrasi beberapa hari yang lalu. Ini kali pertama buat saya melakukan penerbangan ke luar negeri melalui kota lain selain Jakarta. Prosedur yang harus dilakukan seharusnya sama, saya pikir.
Menuju ke counter bebas fiskal, saya segera minta formulir dari petugas di dalam ruangan tersebut satu lembar. Beberapa meter dari depan counter seorang bapak sepertinya menawarkan jasa fotokopi paspor saya. Pada awalnya saya tidak menanggapinya karena kedengaran aneh ada orang menawarkan jasa fotokopi di bandara. Ketika saya selesai mengisi formulir tersebut dan kembali ke depan counter bebas fiskal, di situ saya baru mengerti. Tertulis jelas di kertas yang ditempelkan di depan kaca counter bahwa penumpang yang ingin mengajukan bebas fiskal harus membawa fotokopi paspor.
Saya lirik di dalam ruangan petugas memang tidak kelihatan sebuah mesin fotokopi, mungkin terletak agak ke dalam. Tapi tidak ada ruangan yang tertutup ternyata. Kembali bapak tadi menawarkan jasa fotokopi ke saya. Dengan terbatasnya waktu untuk boarding dan rekan yang ikut menunggu, saya mengurungkan niat untuk ‘raise up’ keadaan itu. Akhirnya saya turuti penawaran itu dengan mengikutinya ke suatu ruangan yang dia sebut ruangan sekuriti.
Pernahkah anda bayangkan berapa derajat suhu udara di luar pesawat ketika sedang terbang pada ketinggian tertentu? Pada beberapa penerbangan yang pernah saya lewati menggunakan jenis pesawat berbadan sedang (Boeing B737 series atau Airbus 318) sehingga tidak informasi yang bisa diambil. Kadang-kadang saja pilot memberitahukan bahwa pesawat sedang ‘cruising’ pada ketinggian 32.000 feet (setara 10 km) di atas permukaan laut. Dan biasanya mereka hanya akan mengabarkan suhu udara di kota tujuan.
Ketika saya mendapat kesempatan untuk naik pesawat terbang berbadan lebar (Boeing 777 series atau Airbus 330 series), pada pesawat tersebut kita bisa mengetahui informasi tentang suhu udara di laur, ketinggian pesawat, peta perjalanan bahkan kecepatan pesawat terbang.
Ini hal yang paling menyenangkan buat pengalaman terbang terutama apabila harus terbang selama lebih dari satu jam. Pada pesawat berbadan lebar tersebut pada umumnya dilengkapi personal screen di setiap tempat duduk penumpang, layar monitor kecil yang bisa menampilkan film terbaru, games, music dan informasi penerbangan.





Your Say