You are currently browsing the monthly archive for Maret 2008.

pilot.jpg

Kali ini sungguh berita mengejutkan buat saya pribadi bahwa ada seorang broker properti bisa menjadi pilot. Saya baca berita tersebut pada media massa hari ini yang tengah menyoroti sebuah maskapai penerbangan nasional dengan segala masalah internal mereka terutama keuangan.
Walaupun sebelumnya seorang kenalan (dari sebuah maskapai penerbangan) saya pernah bercerita bahwa untuk menjadi seorang pilot cukup mudah asal kita memiliki uang sekitar Rp 200 juta untuk biaya kursus dan lain-lain selama 6 bulan. Saat itu saya hampir tak percaya dan menganggap beliau hanya bergurau.

Namun deminian membaca berita hari ini cukup membuat saya tambah percaya bahwa menjadi pilot lumayan semudah menjadi sopir mobil. Saya pikir menjadi pilot harus menjalani pendidikan khusus selama bertahun-tahun dan harus menjalani pemeriksaan kesehatan yang sangat ketat (yang ini mungkin memang benar). Apakah benar demikian mudah untuk menjadi pilot?
Bagaimana mungkin tugas seorang pilot yang bertanggung jawab terhadap nyawa ratusan orang cukup diberikan pada seorang yang memiliki uang dan hanya dididik selama 6 bulan?
Yang paling mengejutkan buat saya pribadi bahwa ‘pilot’ tersebut sudah langsung bisa mengoperasikan pesawat jet Boeing 737 series!
Bukannya berawal dari pesawat Cessna atau Fokker dahulu.

adam_air.jpgSeperti diberitakan oleh beberapa media massa di Indonesia dan luar negeri hari ini tanggal 10 maret 2008 sebuah pesawat dari maskapai penerbangan nasional mengalami kecelakaan di bandara Hang Nadim – Batam. Apabila membaca bagaimana para penumpang sempat terjebak di dalam pesawat tersebut selama 15 menit setelah pesawat mendarat darurat, saya menjadi kurang nyaman membayangkan perasaan mereka di dalam pesawat dengan segala kepanikan yang mungkin timbul.

Apalagi ada dikabarkan pula bahwa penumpang tidak mendapatkan pelayanan yang optimal pasca kecelakaan tersebut. Hanya mendapatkan nasi bungkus dan tidak ada pemberitaan resmi ataupun semacam penanganan khusus terhadap mereka. Ternyata naik pesawat tidak lagi menjadi sebuah ekslusifitas di Indonesia. Kebanggaan dan kenyamanan sebelum dan setelah memasuki pintu pesawat tidak lagi terasa bedanya dengan sebuah metro mini. Mengapa saya sebut demikian? Ketika anda naik metro mini, kernet bis akan peduli terhadap anda yang belum membayar ongkos dan benar-benar tidak perduli terhadap penumpang yang sudah bayar dan akan turun.

Yang sangat mengherankan adalah mengapa hal ini (kecelakaan) terjadi terlalu sering pada sebuah maskapai penerbangan? Apakah mereka tidak belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya? Apakah pengawasan dari pihak berwenang yang waktu itu sempat digaungkan untuk mencabut ijin terbang hanya dilakukan selayaknya tren fashion?

Lalu mereka para penumpang apakah tidak memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik hanya karena membayar lebih murah?

turbulence.jpg

Saya sempat berargumentasi dengan seorang teman saya yang bekerja di sebuah maskapai penerbangan besar di Indonesia. Kami berdiskusi tentang turbulence dan beberapa efeknya terhadap posisi tempat duduk. Berdiskusi bahwa dengan menggunakan pesawat berbadan lebar goncangan tersebut terasa semakin halus dibanding pada saat menggunakan pesawat berbadan sedang. Ini adalah suatu pandangan dari sisi penumpang. Seperti halnya kita berjalan di atas jalan raya yang bergelombang, dengan kondisi jalan yang sama akan terasa lebih lembut ketika kita berada di dalam mobil Mercedes Benz dibanding ketika menggunakan mobil minibus sejenis Suzuki APV misalnya tanpa bermaksud untuk memojokkan suatu merek mobil di atas.

Yang menjadi topik dasar sebenarnya bagaimana turbulence tersebut mempengaruhi gerakan pesawat. Secara teknis beliau memang benar bahwa apapun jenis pesawat dan berapapun ukurannya akan mengalami goncangan yang sama pada saat melalui sebuah kekuatan turbulence yang sama. Sementara argumentasi saya bagaimana sebagai penumpang merasakan goncangan itu ketika berada di tempat duduk barisan depan, tengah atau belakang itu adalah berbeda berdasarkan pengalaman.

Read the rest of this entry »

atr72.jpg

Kalau kita melihat jenis pesawat di Indonesia rata-rata sudah menggunakan pesawat berbadan sedang (Airbus atau Boeing 737 series) dan itu biasanya untuk tujuan pada kota-kota besar saja. Deru suara mesin pada pesawat tipe tersebut memang terdengar keras namun tidak sebising jenis pesawat yang masih menggunakan baling-baling. Dalam perjalanan saya menuju ke satu kota dengan jarak sekitar 400km dari kota tempat saya tinggal, kami terbang menggunakan pesawat baling-baling jenis ATR 72.

Begitu bisingnya suara mesin, apalagi karena saya duduk pas di kursi dekat posisi mesin tersebut. Sudah mencoba menambah volume sekeras-kerasnya pada pemutar musik digital pun masih tidak mampu membuat suara tersebut hilang. Melihat baling-baling tersebut pada saat pesawat berhenti rasanya masih kurang yakin tapi ternyata pesawat jenis ini lebih cepat take-off daripada pesawat yag lain.

Read the rest of this entry »