You are currently browsing the category archive for the 'Boarding' category.
Ini sebenarnya pengalaman dari teman saya yang waktu itu hendak terbang dari Jakarta ke Solo untuk urusan kantor. Karena dia waktu itu bangun kesiangan sehingga tiba di bandara pada ‘injury time’ . Konsekuensinya dia harus sedikit ‘ngos-ngosan’ memasuki kabin pesawat pada barisan terakhir saat hampir semua penumpang sudah masuk pesawat.
Ketika dia hendak menuju kursi seperti yang tertera pada boarding pass, ternyata sudah ada seorang bapak-bapak yang duduk di kursi nomore 15F, nomor kursi yang tertulis pada boarding passnya. Ketika ditanya seat numbernya bapak tersebut menjawab 15E. Langsung saja dia meminta bapak itu untuk bergeser ke kursi no 15E. Merasa agak sulit untuk bergeser karena harus keluar dan masuk dari lajur kursi tersebut bapak itu menolak dan menyuruh teman saya duduk di kursi 15E.
Teman saya dengan sopan menolak dan minta bantuan pramugari untuk menegur bapak itu tapi tetap saja beliau menolak. Rasa senioritas atau semacam sindrom bahwa yang lebih tua harus didengar seketika timbul dalam dialog tersebut.
Kira-kira sudah sekitar satu tahun aturan ini berlaku di seluruh penerbangan baik domestik maupun internasional. Kita tidak diijinkan membawa cairan, lotion atau jenis air minum apapun ke dalam kabin pesawat apabila melebihi 200ml. Apabila itu tidak bisa dihindari maka cairan itu harus disegel di hadapan petugas boarding.
Bertambah lagi peraturan naik pesawat. Dari handphone, alat elektronik, benda tajam dan sekarang cairan. Larangan yang lain bagi saya masih terdengar wajar akan tetapi cairan? Saya pernah membawa sebotol air minum mineral bahkan yang masih segel baru beli dari warung. Petugas dengan galaknya menyuruh saya mengeluarkan botol tersebut. Karena memang waktu itu saya ngotot, tetapi di boarding room mereka yang punya kuasa.
Waktu itu saya belum mengerti apa artinya kabin dan tas seperti apa yang pantas dan layak diletakkan di dalam kabin. Pesawat memiliki dua tempat penyimpanan barang selama perjalanan. Bagasi adalah semacam ruang besar di bagian bawah pesawat untuk meletakkan seluruh tas koper milik penumpang. Dan ada pula di kabin bersama-sama dengan tempat duduk penumpang.
Petugas check-in selalu menanyakan apakah kita memiliki tas untuk check-in. Ini artinya tas yang ukurannya tidak cukup untuk untuk diletakkan di kabin penumpang dan harus dimasukkan ke ruang bagasi.
Saya masih sering terheran-heran dengan beberapa penumpang yang bisa membawa lebih dari 2 tas ke dalam kabin. Bahkan kedua tangannya sampai kewalahan. Satu tas kecil untuk notebook, satu lagi tas punggung untuk pakaian (mungkin) dan masih ada lagi tas lain yag entah untuk apa fungsinya. Sehingga orang tersebut sempat tertatih-tatih mencari nomer kursi tempat duduknya.
Suatu pemandangan yang menjengkelkan buat saya karena harus berdiri dan menunggu terlalu lama di lorong (aisle) sampai orang itu selesai mengatur dan memaksa tasnya masuk ke kabin penyimpanan. Sekali lagi indra pengertian kembali muncul dengan segala alasan buatan di benak saya. Mungkin orang ini memang tidak memiliki tas yang besar atau mungkin dia harus membawa milik kerabatnya. Pemakluman demi pemakluman kembali harus dilontarkan.
Rasanya alasan dan analisa yang paling jelas dilihat adalah karena orang itu malas untuk antri di depan luggage belt pada saat mendarat nanti. Hanya itu alasan yang masuk akal bagiku. Tapi yang pasti karena dia juga tidak memperdulikan sesama penumpang yang lain antri di belakang dia.
Sekedar tips buat anda sebelum menuju ke bandara. Buatlah packing barang-barang anda serapi dan sesederhana mungkin. Satu tas yang memadai untuk bagasi dan satu tas yang cukup untuk menyimpan barang-barang berharga di dalam kabin. Hal ini akan cukup membantu proses boarding. Juga membantu jasa penerbangan memberikan data ‘weight’ yang lebih akurat kepada pilot.
Pernahkan anda mendengar bahwa overweight bisa menyebabkan pesawat mengalami kecelakaan? Mari menjadi lebih bijaksana selama perjalanan udara.





Your Say