You are currently browsing the category archive for the 'Check-in' category.
Pada saat check-in di depan counter boarding, saya selalu mencoba ingat untuk minta petugas memberi seat number favorit saya. Penerbangan domestik di Indonesia saat ini rata-rata masih menggunakan jenis pesawat Boeing B727, 737-300, B737-400 atau B737-500 sehingga beberapa posisi ’strategis’ sudah cukup baik di ingatan saya. yang selalu ditanyakan oleh petugas apakah kita ingin duduk di dekat jendela atau di gang. Itupun kalau mereka tidak sedang di bawah tekanan kesibukan aktifitas check-in.
Kelas bisnis tentunya area yang paling baik dibandingkan tempat duduk di kelas ekonomi, saat ini kita cukup diskusikan tentang kelas ekonomi dulu. Beberapa airline sebenarnya telah menghapus tempat duduk kelas bisnisnya.
Urutan posisi paling nyaman versi ‘Transportasi Udara weblog’ didasarkan pada kenyamanan pada waktu proses boarding, kenyamanan di dalam kabin selama perjalanan dan antisipasi keadaan darurat. Tentu saja tidak akan selalu bisa didapatkan, namun tidak ada salahnya bila kita mengerti dan mengetahuinya.
Berat bagasi yang berlebihan kadang sulit dihindari ketika anda be(r)pergian ke luar kota selama beberapa hari. Apabila Singapura misalnya, bagi shopper sejati satu tas sudah pasti tidak cukup. Tapi itu bukan berarti tidak ada jalan keluar untuk menghindari kewajiban membayar biaya ekstra yang tidak masuk akal. “Mendingan buat belanja daripada buat bayar bagasi lebih.” Demikian teman saya berujar.
Caranya gimana?
Iya… yang namanya terbang untuk pertama kalinya memang membuat penasaran dan was-was. Membayangkan bagaimana rasanya berada di atas sana di antara awan-awan. Beruntung saya waktu itu memperoleh tempat duduk di dekat jendela sehingga nyaman sekali untuk dapat menikmati pemandangan di luar. Mungkin manager saya dan temannya mengerti bahwa ini ‘first flight’ buat saya.
Saya biarkan mereka berbincang-bincang sepanjang perjalanan.Ssst… mereka benar-benar doyan ngomong…Engga habis-habisnya ngobrol bahkan sampai pesawat mendarat pun obrolan masih belum selesai. Sabuk pengaman di dalam pesawat ternyata tidak sama dengan sabuk pengaman di dalam mobil. Hanya ‘mengikat’ badan kita dari sebelah kanan dan kiri pinggang. Lockernya pun tidak ada yang bisa dipencet. Kita tinggal mendorongnya untuk memasang sabuk pengaman dan menarik tuasnya ke atas apabila hendak melepaskannya. Biasanya pramugari akan membantu memperagakan caranya.
Perasaan seperti orang kampung masuk kota serasa terjadi lagi saat itu.
Melihat-lihat berbagai instrumen yang ada di dalam pesawat. Tanda-tanda dan lampu petunjuk di atas kepala. Tidak ada ide sama sekali waktu itu. Ketika pesawat mulai lepas landas, ada rasa yang saya sulit menemukannya dalam bahasa Indonesia yang baku. Tapi seperti kalau kita naik Kora-Kora di Taman Impian Jaya Ancol, terutama pada waktu turun…. Rumah, mobil dan jalanan kelihatan begitu kecil seperti mainan. Ketika pesawat mulai berada pada ketinggian tertentu, pada ketinggian di mana kita bisa berada di dalam awan, sebuah sensasi mengagumkan terjadi bagi saya.
Awan-awan tersebut tidak terlihat lagi seperti kapas (seperti yang kita bayangkan waktu kecil) tapi terlihat jelas seperti gumpalan-gumpalan asap raksasa yang rasanya kita bisa berdiri di atasnya. Saya akan ceritakan berbagai bentuk awan pada beberapa waktu yang berbeda di kategori yang lain. Dan ketakutan akan apa yang terjadi apabila kita menabrak awan itu ternyata tidak terbukti. Awan itu dengan mudahnya ditembus dengan goncangan kecil sekali.
Kekaguman saya tak habisnya terhadap Sang Pencipta tentang bagaimana semua fenomena alam ini terwujud dan teratur. Darat. laut, air, udara dan makhluk di dalamnya. Karya cipta yang sungguh beyond the thought….
Apapun kegiatannya kalau yang namanya baru pertama kali mengalami ya pasti keder (nggak tahu bahasa mana tuh…), gugup, bingung dan was-was. Walaupun bisa melakukan hal lainnya hampir tanpa kesalahan, tapi tetep aja ini pertama kali saya terbang.
Belum sampai seminggu menikmati meja kerja baru di tempat kerja yang baru, saya sudah diajak manager untuk travel ke Surabaya selama 3 hari. Lah… setahu saya, atau paling tidak selama pengalaman bekerja pada sebuah perusahaan swasta hal-hal seperti ini hanya berlaku buat level manager atau paling tidak karyawan yang telah melewati masa percobaan 3 bulan. Manajemen khan pasti harus berhitung untung ruginya mengeluarkan biaya untuk karyawannya.
Bisa jadi kantorku sebelumnya masih menganut tata cara konvensional.. I dunno lah..
“OK, kita ketemu besok pagi di airport jam 7.00 am” itu kata-kata managerku sebelum pulang kantor.
Tanpa ragu aku minta dia nunggu di depan gerbang, tidak check in sebelum ketemu gue. Iya, karena ini adalah pengalaman pertamaku melakukan perjalan menggunakan pesawat terbang. Selama ini kereta api dan mobil cukup membuatku nyaman. I looked like stupid, tapi memang tidak tahu apa-apa tentang tetek-bengek prosedur menggunakan pesawat terbang.
Dia ambilnya tiket di tanganku dan disodorkan bersamaan dengan tiketnya ke check in counter. Aku tidak begitu perhatikan apa yang harus dilakukan dan bagaimana petugas check-in memproses tiket kami. Setahuku, beberapa menit kemudian managerku mengembalikan tiketku bersamaan dengan selembar kertas yang berisi namaku. Aku bahkan tidak tahu bahwa itu namanya boarding pass. Tapi dengan sigap kutemukan di kursi nomor berapa ku harus duduk, hanya saja agak sulit membayangkan di barisan dan sebelah mana aku akan duduk.
Celingak-celinguk, tidak tahu mau kemana setelah itu, manajerku memanggil, menyuruhku untuk mengikuti dia. Kami memasuki suatu ruangan yang sebelumnya harus register dengan kartu kredit. Aku pikir, kenapa lagi dia di sini, dan akhirnya aku baru tahu bahwa kami masuk ke eksekutif lounge dari sebuah kartu kredit tertentu. Dan aku baru sadar ketika dia harus membayar Rp. 50.000 untukku. Benar-benar masih tidak tanggap dengan situasi pagi itu, untuk menghargai karena mengundangku ke eksekutif lounge, aku coba nikmati sarapan dan secangkir kopi di tempat itu, walaupun kopi bukanlah minuman favoritku saat itu.
Entah apa yang managerku dan temannya perbincangkan, aku tidak perduli karena aku juga tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan.
Voila! Akhirnya panggilan itu datang, panggilan untuk segera memasuki pesawat karena akan segera ‘depart’.
Itu terjadi sekitar 8 tahun lalu ketika aku baru bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Di blog ini nanti aku ingin berbagi cerita dengan anda tentang bagaimana kenyamanan dan keluhan atau hal-hal lain yang ada hubungannya dengan transportasi udara menggunakan pesawat terbang.






Your Say