You are currently browsing the category archive for the 'Crew' category.

pilot.jpg

Kali ini sungguh berita mengejutkan buat saya pribadi bahwa ada seorang broker properti bisa menjadi pilot. Saya baca berita tersebut pada media massa hari ini yang tengah menyoroti sebuah maskapai penerbangan nasional dengan segala masalah internal mereka terutama keuangan.
Walaupun sebelumnya seorang kenalan (dari sebuah maskapai penerbangan) saya pernah bercerita bahwa untuk menjadi seorang pilot cukup mudah asal kita memiliki uang sekitar Rp 200 juta untuk biaya kursus dan lain-lain selama 6 bulan. Saat itu saya hampir tak percaya dan menganggap beliau hanya bergurau.

Namun deminian membaca berita hari ini cukup membuat saya tambah percaya bahwa menjadi pilot lumayan semudah menjadi sopir mobil. Saya pikir menjadi pilot harus menjalani pendidikan khusus selama bertahun-tahun dan harus menjalani pemeriksaan kesehatan yang sangat ketat (yang ini mungkin memang benar). Apakah benar demikian mudah untuk menjadi pilot?
Bagaimana mungkin tugas seorang pilot yang bertanggung jawab terhadap nyawa ratusan orang cukup diberikan pada seorang yang memiliki uang dan hanya dididik selama 6 bulan?
Yang paling mengejutkan buat saya pribadi bahwa ‘pilot’ tersebut sudah langsung bisa mengoperasikan pesawat jet Boeing 737 series!
Bukannya berawal dari pesawat Cessna atau Fokker dahulu.

flight-attendant.jpgJika anda ditanya flight attendant seperti apa yang anda harapkan mungkin jawaban yang pertama adalah ramah dan murah senyum. Tapi apakah benar anda bisa mendapatkannya? Saya tidak menyebutnya sebagai pramugari atau pramugara karena kedengarannya kurang mengakomodasi jobdes mereka.

Dulu ketika saya masih sering ditanya apa cita-cita saya nanti, jawabannya kalau tidak pilot, insinyur, dokter atau presiden. Tidak ada kata-kata pramugara menjadi bagian dari kamus cita-cita waktu itu. Saya telaah lagi jawaban saya waktu itu ternyata belum juga menemukan alasan yang tepat.

Pengalaman saya selama ini terhadap ’sepak terjang’ flight attendant (FA) pada penerbangan nasional ternyata masih belum bisa merubah imej mereka di dalam pikiran saya selama ini. Kalau mau menggunakan point mungkin saya cukup memberikan angka 6 dari 10. Dan senyum yang saya dapatkan dari FA pun tidak sampai angka enam. Kalaupun ada ternyata itu bukan keramahan yang sebenarnya. Teman saya justru menggambarkan jobdes seorang FA seperti pelayan restoran. Sungguh kurang sopan memang, namun ketika saya mendapatkan pelayanan dari FA yang lebih melihat penampilan penumpang dari pada status penumpang itu sendiri membuat saya setuju-setuju saja dengan gambaran tersebut.

Read the rest of this entry »