You are currently browsing the category archive for the 'Safety' category.
Hampir tidak percaya ketika membaca dan mendengar informasi tentang tersebarnya rekaman kotak hitam pesawat Adam Air KI 574 yang jatuh awal tahun silam. Ngeri memang mendengar rekaman yang berisi detik-detik terakhir sebelum kecelakaan.
Namun timbul pertanyaan tentang ke-otentik-an isi rekaman tersebut dan timbul banyak sekali komentar dari berbagai pihak, terutama KNKT.
Blackbox dari sebuah pesawat, atau kotak hitam (sebenarnya kotak itu sendiri berwarna oranye, yang terdapat pula selotip strip berwarna terang atau menyala ketika terkena cahaya) adalah sebuah alat yang berfungis untuk menyimpan Flight Data Recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR). Hal ini ditujukan agar pada setiap kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akan mampu ditelusuri penyebabnya sehingga bisa dilakukan tindakan pencegahan di masa ke depan.
Kotak Hitam tersebut, seharusnya hanya bisa dibaca dengan sebuah alat khusus yang hanya dimiliki oleh pihak yang berwenang dan tidak akan dipublikasikan. Dan beberapa pendapat menyatakan bahwa pihak manapun yang menyebarluaskan isi daripada kotak hitam tersebut adalah sebuah pelanggaran hukum.
Lalu jika kita berpikir dan bertanya-tanya tentang motif orang yang menyebarluaskan rekaman tersebut melalui internet adalah sebuah hal yang sulit dipahami. Atau kalaupun rekaman itu adalah sebuah bukti yang otentik? Siapa lagi yang bisa dipercaya?
Link ke beberapa rekaman suara dan transkrip jatuhnya pesawat Adam Air:
Seperti diberitakan oleh beberapa media massa di Indonesia dan luar negeri hari ini tanggal 10 maret 2008 sebuah pesawat dari maskapai penerbangan nasional mengalami kecelakaan di bandara Hang Nadim – Batam. Apabila membaca bagaimana para penumpang sempat terjebak di dalam pesawat tersebut selama 15 menit setelah pesawat mendarat darurat, saya menjadi kurang nyaman membayangkan perasaan mereka di dalam pesawat dengan segala kepanikan yang mungkin timbul.
Apalagi ada dikabarkan pula bahwa penumpang tidak mendapatkan pelayanan yang optimal pasca kecelakaan tersebut. Hanya mendapatkan nasi bungkus dan tidak ada pemberitaan resmi ataupun semacam penanganan khusus terhadap mereka. Ternyata naik pesawat tidak lagi menjadi sebuah ekslusifitas di Indonesia. Kebanggaan dan kenyamanan sebelum dan setelah memasuki pintu pesawat tidak lagi terasa bedanya dengan sebuah metro mini. Mengapa saya sebut demikian? Ketika anda naik metro mini, kernet bis akan peduli terhadap anda yang belum membayar ongkos dan benar-benar tidak perduli terhadap penumpang yang sudah bayar dan akan turun.
Yang sangat mengherankan adalah mengapa hal ini (kecelakaan) terjadi terlalu sering pada sebuah maskapai penerbangan? Apakah mereka tidak belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya? Apakah pengawasan dari pihak berwenang yang waktu itu sempat digaungkan untuk mencabut ijin terbang hanya dilakukan selayaknya tren fashion?
Lalu mereka para penumpang apakah tidak memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik hanya karena membayar lebih murah?
Sebuah kecelakaan pesawat yang menewaskan seluruh penumpangnya terjadi di Venezuela pada 22 Februari 2008 yang lalu. Pesawat dengan nomor penerbangan 518 tersebut tinggal landas dari Merida, Venezuela (500km dari Caracas ibukota Venezuela) dengan membawa 42 penumpang dan 4 orang crew pesawat. Merida merupakan sebuah kota pegunungan. Menurut direktur pertahanan nasional setempat kecelakaan pesawat diduga karena menabrak gunung pada ketinggian sekitar 4.750 m di atas permukaan laut.
Polisi setempat juga melaporkan lokasi kecelakaan yang tepatnya berada di Paramo de Mucuchies dekat Laguna de la Perlada di sebelah barat daya Merida. Penduduk mendengar suara ledakan yang sangat keras beberapa saat setelah penerbangan 518 yang dioperasikan oleh Santa barbara Airlines dilaporkan hilang. Sampai saat ini belum dijelaskan secara resmi penyebab kecelakaan.
Ungkapan ini timbul dari seorang rekanan kerja saya waktu itu ketika pesawat yang kami tumpangi baru saja mendarat di Juanda – Surabaya. Ada rasa malu tapi juga ada perasaan geli… Walaupun kejadian itu telah lewat lebih dari 5 tahun yang lalu tapi hingga saat ini saya masih sering melihat fenomena yang sama.
Dan apa yang dia katakan memang tidak lebih dari 5 detik. Begitu terasa roda pesawat menyentuh landasan bandara, kami mendengar suara sms yang masuk dari seorang penumpang di depan kami. Dan hanya dalam hitungan detik pula kami mendengar bunyi handphone dinyalakan dari sudut tempat duduk yang lain. Memang sulit dimengerti sikap dan budaya masyarakat saat ini. Dari pemikiran bahwa penumpang pesawat (seyogyanya) memiliki pendidikan yang tidak rendah dan bisa mendengar himbauan dari pramugari pesawat pada kenyataannya entah mereka mendengar tapi tidak mengerti atau mengerti tapi tidak ‘mendengar’.
Para flight attendant (pramugari) tidak pernah lupa untuk mengingatkan kita, para penumpang untuk senantiasa mematikan pesawat telepon genggam selama berada di dalam pesawat. Mereka bilang sinyal telepon atau radio receiver bisa mengganggu sistem navigasi pesawat.
Dari penjelasan itu, tetap saja masih banyak penumpang yang menyalakan handphone mereka di dalam pesawat sebelum pesawat bergerak menuju landasan. Dan setiap kali pula saya mendengar suara orang bercakap-cakap tapi tidak terdengar suara orang kedua. Saya berpikir, apa gerangan yang ada di benak para penumpang yang tetap menyalakan handphone bahkan menggunakannya untuk menghubungi orang di luar? Apakah karena penjelasan bahwa gangguan hanya pada sistem navigasi lalu ketika pesawat tidak bergerak berarti sistem navigasi tidak terganggu?
Pesawat yang berhenti tidak akan terganggu karena itu berarti pesawat ‘belum’ menggunakan sistem navigasinya?Kalau begitu pengertian kita akan sistem navigasi pesawat adalah alat pelacak lokasi, komunikasi dan pemetaan saja? Lalu bagaimana dengan beberapa instrumen pesawat lain seperti pengukur suhu udara luar, kecepatan angin, dan alat kontrol lain yang mungkin dioperasikan dengan sinyal radio? Dan mungkin instrumen-instrumen tersebut di jalankan bahkan ketika pesawat berhenti.
Entahlah, saya tidak punya pengetahuan atau informasi sejauh itu. Bagi saya ya sudah kita ikuti saja petunjuk pramugari di dalam pesawat karena bagaimanapun juga mereka yang lebih banyak tahu tentang pesawat dari pada penumpang. Sama halnya ketika kita menuruti polisi di jalan raya atau kernet bis umum. Kadang-kadang ini mengganggu sih, sudah di dalam pesawat dan ada orang telepon ke rumahnya:
“Iya, aku sudah di dalam pesawat, nih. Ntar dijemput satu jam lagi.”
Ini satu cuplikan pembicaraan lewat telepon genggam di dalam pesawat.
Hello….. sebelum kita keluar rumah menuju bandara pun pasti keluarga atau kolega di kota tujuan khan sudah kita beritahu bahwa hari ini terbang dengan menggunakan airlines ‘X’ dengan flight number ‘123′ lalu penerbangan kira-kira 1 jam, jadi waktu kedatangan di airport di kota tujuan sebenarnya sudah jelas.
Btw, suatu kali saya sempat duduk satu lajur bersama seorang teman dan kami ngobrol tentang penggunaan hanphone di dalam pesawat. Menurut informasi yang dia peroleh penggunaan handphone ada pula hubungannya dengan bahan bakar pesawat. Mirip dengan himbauan di pompa bensin tentang handphone, pesawat juga memiliki resiko yang sama terutama ketika kita melihat ada satu truk tangki sedang mengisi bahan bakar untuk pesawat. Ada resiko bahaya bahwa sinyal radio terutama handphone (lebih kuat dari radio transistor) mungkin bisa ‘bergesekan’ dengan gas bahan bakar pesawat pada waktu pengisian. Resiko paling besar bisa terjadi!
Tapi menurut dia, itu tidak terjadi pada pesawat handphone yang sudah ‘modern’. Beberapa jenis handphone yang lama (yang masih sebesar thermos) memiliki kelemahan tentang kebocoran sinyal dan dari handphone jenis inilah yang beresiko. Namun pramugari tidak mungkin memeriksa jenis handphone yang dimiliki oleh setiap penumpang. Itulah sebabnya handphone dilarang. Jenis handphone yang paling mutakhir telah mampu mengatasi masalah ini.
Bagaimanapun juga, jika anda melakukan perjalanan udara yang hanya memakan waktu sekitar 1-2 jam, merupakan cukup waktu untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap alat komunikasi ini. Dan yang paling penting, ini untuk keselamatan bersama.






Your Say