Apapun kegiatannya kalau yang namanya baru pertama kali mengalami ya pasti keder (nggak tahu bahasa mana tuh…), gugup, bingung dan was-was. Walaupun bisa melakukan hal lainnya hampir tanpa kesalahan, tapi tetep aja ini pertama kali saya terbang.

board.jpg

Belum sampai seminggu menikmati meja kerja baru di tempat kerja yang baru, saya sudah diajak manager untuk travel ke Surabaya selama 3 hari. Lah… setahu saya, atau paling tidak selama pengalaman bekerja pada sebuah perusahaan swasta hal-hal seperti ini hanya berlaku buat level manager atau paling tidak karyawan yang telah melewati masa percobaan 3 bulan. Manajemen khan pasti harus berhitung untung ruginya mengeluarkan biaya untuk karyawannya.

Bisa jadi kantorku sebelumnya masih menganut tata cara konvensional.. I dunno lah..

“OK, kita ketemu besok pagi di airport jam 7.00 am” itu kata-kata managerku sebelum pulang kantor.

Tanpa ragu aku minta dia nunggu di depan gerbang, tidak check in sebelum ketemu gue. Iya, karena ini adalah pengalaman pertamaku melakukan perjalan menggunakan pesawat terbang. Selama ini kereta api dan mobil cukup membuatku nyaman. I looked like stupid, tapi memang tidak tahu apa-apa tentang tetek-bengek prosedur menggunakan pesawat terbang.

Dia ambilnya tiket di tanganku dan disodorkan bersamaan dengan tiketnya ke check in counter. Aku tidak begitu perhatikan apa yang harus dilakukan dan bagaimana petugas check-in memproses tiket kami. Setahuku, beberapa menit kemudian managerku mengembalikan tiketku bersamaan dengan selembar kertas yang berisi namaku. Aku bahkan tidak tahu bahwa itu namanya boarding pass. Tapi dengan sigap kutemukan di kursi nomor berapa ku harus duduk, hanya saja agak sulit membayangkan di barisan dan sebelah mana aku akan duduk.

Celingak-celinguk, tidak tahu mau kemana setelah itu, manajerku memanggil, menyuruhku untuk mengikuti dia. Kami memasuki suatu ruangan yang sebelumnya harus register dengan kartu kredit. Aku pikir, kenapa lagi dia di sini, dan akhirnya aku baru tahu bahwa kami masuk ke eksekutif lounge dari sebuah kartu kredit tertentu. Dan aku baru sadar ketika dia harus membayar Rp. 50.000 untukku. Benar-benar masih tidak tanggap dengan situasi pagi itu, untuk menghargai karena mengundangku ke eksekutif lounge, aku coba nikmati sarapan dan secangkir kopi di tempat itu, walaupun kopi bukanlah minuman favoritku saat itu.

Entah apa yang managerku dan temannya perbincangkan, aku tidak perduli karena aku juga tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan.

Voila! Akhirnya panggilan itu datang, panggilan untuk segera memasuki pesawat karena akan segera ‘depart’.

Itu terjadi sekitar 8 tahun lalu ketika aku baru bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Di blog ini nanti aku ingin berbagi cerita dengan anda tentang bagaimana kenyamanan dan keluhan atau hal-hal lain yang ada hubungannya dengan transportasi udara menggunakan pesawat terbang.