price-tag.jpgIni sebenarnya lebih merupakan pengalaman dan komplain pribadi saya terhadap mekanisme ekonomi yang terjadi di setiap fasilitas umum di Indonesia mulai dari terminal, stasiun kereta api hingga bandar udara domestik maupun internasional. Setiap kali melihat harga barang-barang, makanan dan minuman yang dijual di bandara saya selalu geleng kepala. Mengapa harga-harga tersebut menjadi tidak masuk akal?

Koran, majalah, minuman dan baju batik pasti harganya menjadi ‘tidak terjangkau’. Saya berpikir apabila sebuah restoran di mal pasti juga harus membayar sewa tempat untuk berbisnis dan biaya2 lainnya, begitu pula di bandara. Faktor biaya tersebut memang pasti ada tapi total biayanya menjadi tidak masuk akal.

Mungkinkah mereka para penjual berpikir bahwa semua orang yang masuk bandara itu berduit? Atau walaupun berduit sekalipun apakah membelanjakan uang pada harga yang tidak wajar itu menjadi wajar? Yang menjadi perkiraan saya adalah suatu sistem dan situasi tiadanya pilihan. Kita berada pada satu tempat yang jauh dari rumah dan keterbatasan membuat kita hanya memiliki pilihan terbatas di bandara dan itu yang dimanfaatkan oleh mereka.

Tapi mengapa ketika saya mencoba melihat bandara lain dan membeli barang di sana justru lebih murah? Justru pengelola tidak mengenakan pajak pembelian? Sulit sekali dipahami dan untuk mendapatkan pelayanan dan harga yang akan tetap terjangkau di bandara mungkin masih menjadi mimpi saya saat ini.