gerbang-e.jpg

Dari tanggal 1 February kemarin hujan lebat mengguyur Jakarta dan sekitarnya sehingga mengakibatkan banjir terjadi dimana-mana. Dan untuk pertama kalinya di tahun 2008 jalan tol menuju bandara Soekarno-hatta di Cengkareng ditutup karena terhadang banjir. Bagi penumpang dan maskapai penerbangan ini suatu kekacauan yang tidak bisa mereka hindari. Banyak penumpang bahkan kru pesawat tidak bisa tiba di bandara tepat waktu sehingga banyak penerbangan delay karena menunggu kru pesawat.

Situasi yang lain membuat para penyedia jasa penerbangan seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kondisi cuaca di bandara Cengkareng tidak memungkinkan bagi pesawat untuk mendarat sehingga banyak penerbangan yang menunda pendaratan. Menurut detik.com ‘visibility’hingga kurang dari 500 feet, menurut standar keselamatan penerbangan ini berbahaya untuk keselamatan.

Bandara hingga harus ditutup beberapa jam, tidak boleh ada pendaratan sebelum diijinkan. Otomatis tidak ada pesawat yang menjemput para penumpang di Cengkareng dan ini berlangsung beberapa jam. Situasi tersebut membuat ‘distribusi’ pesawat dari dan kota lain menjadi terganggu. Tidak ada peumpang yang bisa dibawa menuju dan keluar dari Jakarta.

Ada satu orang teman saya yang bermaksud pulang ke Semarang dari Singapura harus menunggu di bandara Changi hingga 28jam! Tidak ada pesawat yang bisa menjemput dia dan penumpang lainnya ke Semarang karena pesawat yang digunakan untuk rute Semarang-Singapura adalah pesawat rute Jakarta-Semarang.

Siapa yang harus disalahkan dalam situasi seperti ini? Menurut saya ini sebuah force majeure yang siapapun tidak dapat disalahkan. Suatu kondisi cuaca dan penutupan bandara adalah untuk keselamatan bersama. Dan resiko terlambat di dalam suatu perjalanan adalah konsekuensi yang masih acceptable bagi keselamatan jiwa kita. Saya pikir bandara telah mengambil suatu keputusan yang tepat dan apabila sampai saat ini tidak ada pesawat yang bermasalah berarti mereka telah berhasil menjalankan tugasnya.

Yang patut menjadi perhatian dan perkembangan berikutnya adalah fasilitas di bandara. Ternyata Bandara Soekarno-Hatta belum siap menghadapi situasi chaos seperti ini di mana banyak penumpang harus tinggal di bandara dan bahkan menginap paling tidak semalam. Sistem sanitasi dan fasilitas yang lain tidak tersedia dengan baik. Bahkan pada situasi normal sekalipun, apabila anda memakai toilet di bandara, kondisinya tidak sebaik yang bisa anda harapkan dari sebuah toilet bandara.