on-hand.jpgUngkapan ini timbul dari seorang rekanan kerja saya waktu itu ketika pesawat yang kami tumpangi baru saja mendarat di Juanda – Surabaya. Ada rasa malu tapi juga ada perasaan geli… Walaupun kejadian itu telah lewat lebih dari 5 tahun yang lalu tapi hingga saat ini saya masih sering melihat fenomena yang sama.

Dan apa yang dia katakan memang tidak lebih dari 5 detik. Begitu terasa roda pesawat menyentuh landasan bandara, kami mendengar suara sms yang masuk dari seorang penumpang di depan kami. Dan hanya dalam hitungan detik pula kami mendengar bunyi handphone dinyalakan dari sudut tempat duduk yang lain. Memang sulit dimengerti sikap dan budaya masyarakat saat ini.  Dari pemikiran bahwa penumpang pesawat (seyogyanya) memiliki pendidikan yang tidak rendah dan bisa mendengar himbauan dari pramugari pesawat pada kenyataannya entah mereka mendengar tapi tidak mengerti atau mengerti tapi tidak ‘mendengar’.

Terlihat jelas bahwa penumpang tersebut lebih kuatir apabila ada orang yang ingin berbincang melalui telepon tapi tidak terhubung daripada kekuatiran dia terhadap keselamatan penerbangan. Fenomena handphone ternyata lebih kuat mengikat jiwa kita para penggunanya.

Dengan tetap menghargai hak asasi untuk menggunakan hak milik pribadi, saya pikir ini mungkin pola pikir kebanyakan masyarakat kita. Seperti halnya penggunaan helm, sabuk pengaman atau himbauan lain yang bersifat pencegahan, tidak cukup kuat ‘memaksa’ sebelum terlihat bukti nyata.

Apa yang bisa kita lakukan menghadapi hal itu? For being polite… kadang saya cukup memanggil pramugari dan minta bantuannya untuk mengingatkan penumpang tersebut. Ini kita bisa lakukan pada saat pesawat belum tinggal landas. Pernah ada satu penumpang yang keras kepala tidak mematikan sebelum pesawat benar-benar ‘terbang’. Lalu saya melihat penumpang lain yang dengan kesalnya berkata:

“Bapak, kalau anda ingin bunuh diri jangan ajak-ajak orang lain!”

Seketika itu juga orang itu mematikan handphonenya. Rude memang…