seat.jpg

Ini sebenarnya pengalaman dari teman saya yang waktu itu hendak terbang dari Jakarta ke Solo untuk urusan kantor. Karena dia waktu itu bangun kesiangan sehingga tiba di bandara pada ‘injury time’ . Konsekuensinya dia harus sedikit ‘ngos-ngosan’ memasuki kabin pesawat pada barisan terakhir saat hampir semua penumpang sudah masuk pesawat.

Ketika dia hendak menuju kursi seperti yang tertera pada boarding pass, ternyata sudah ada seorang bapak-bapak yang duduk di kursi nomore 15F, nomor kursi yang tertulis pada boarding passnya. Ketika ditanya seat numbernya bapak tersebut menjawab 15E. Langsung saja dia meminta bapak itu untuk bergeser ke kursi no 15E. Merasa agak sulit untuk bergeser karena harus keluar dan masuk dari lajur kursi tersebut bapak itu menolak dan menyuruh teman saya duduk di kursi 15E.

Teman saya dengan sopan menolak dan minta bantuan pramugari untuk menegur bapak itu tapi tetap saja beliau menolak. Rasa senioritas atau semacam sindrom bahwa yang lebih tua harus didengar seketika timbul dalam dialog tersebut.

“Sudah kamu duduk saja di kursi saya, ada masalah? Toh kalau mendarat di Solo juga sampainya sama!” kata bapak itu.

Masih dengan sedikit kesabaran teman saya meminta pramugari untuk menjelaskan kepada bapak itu alasan dia untuk mau tetap duduk di kursi sesuai nomor yang sudah ditentukan. Tapi masih juga dengan jawaban yang intinya sama.

“Pak, benar kalau pesawat ini mendarat dengan selamat di Solo, kita akan tiba bersama-sama juga. Tapi kalau terjadi sesuatu dengan pesawat ini, saya tidak mau mayat bapak yang dikirim ke rumah saya!” kata teman saya setengah berteriak karena kesal.

Serta merta bapak tadi berdiri dan mempersilahkan dia duduk di dekat jendela pesawat. Kasar tapi efektif dan harus dilakukan.

Cerita ini benar terjadi dengan rekan saya kira-kira 5 tahun yang lalu. Menurut saya bukan karena penumpang tersebut tidak mengerti akan pentingnya duduk di nomor yang benar tapi ini lebih masalah tentang disiplin. Sering penumpang menyepelekan hal ini apalagi ketika pergi bersama dalam rombongan.

Petugas darat ketika anda check-in telah mencatat nama penumpang sesuai nomor kursinya dan data-data tersebut disimpan dengan baik di dalam komputer lalu fotokopi daftar penumpangdiserahkan kepada para kru pesawat. Istilah yang saya dengar manifest (semoga benar…) Sehingga semua data tersebut akan disimpan hingga waktu tertentu. Itulah mengapa jika anda mendengar berita kecelakaan pesawat terbang, polisi pasti bisa mengidentifikasi penumpangnya. Anda bisa bayangkan apabila seharusnya duduk di nomor 18A, lalu dengan alasan tertentu pindah ke nomor 9B. Kejadian ini akan membuat kesulitan pada waktu kedaan darurat.

Ini salah satu tugas Flight Attendant untuk memastikan bahwa semua penumpang duduk pada nomor kursi yang telah ditentukan.

Jika anda mungkin juga pernah duduk di tempat duduk yang bukan nomor anda, mari kita mulai disiplin dari hal yang kecil dan sederhana namun memberikan efek yang besar bagi semua orang. Karena jika anda ingin duduk di sebelah jendela atau koridor pesawat, pilihan itu anda bisa peroleh pada waktu check-in.