paspor.jpegSuatu praktek akal-akalan sederhana dari pihak pegawai di bandara membuat saya sedikit kesal saat hendak menuju ke counter imigrasi beberapa hari yang lalu. Ini kali pertama buat saya melakukan penerbangan ke luar negeri melalui kota lain selain Jakarta. Prosedur yang harus dilakukan seharusnya sama, saya pikir.

Menuju ke counter bebas fiskal, saya segera minta formulir dari petugas di dalam ruangan tersebut satu lembar. Beberapa meter dari depan counter seorang bapak sepertinya menawarkan jasa fotokopi paspor saya. Pada awalnya saya tidak menanggapinya karena kedengaran aneh ada orang menawarkan jasa fotokopi di bandara. Ketika saya selesai mengisi formulir tersebut dan kembali ke depan counter bebas fiskal, di situ saya baru mengerti. Tertulis jelas di kertas yang ditempelkan di depan kaca counter bahwa penumpang yang ingin mengajukan bebas fiskal harus membawa fotokopi paspor.

Saya lirik di dalam ruangan petugas memang tidak kelihatan sebuah mesin fotokopi, mungkin terletak agak ke dalam. Tapi tidak ada ruangan yang tertutup ternyata. Kembali bapak tadi menawarkan jasa fotokopi ke saya. Dengan terbatasnya waktu untuk boarding dan rekan yang ikut menunggu, saya mengurungkan niat untuk ‘raise up’ keadaan itu. Akhirnya saya turuti penawaran itu dengan mengikutinya ke suatu ruangan yang dia sebut ruangan sekuriti.

Dengan penuh waspada saya ikuti bapak itu dan melihat setiap gerak-geriknya bahkan gerakan tangannya ketika membuka lembaran-lembaran paspor saya. Sepertinya dia sudah begitu terbiasa bagian-bagian mana dari paspor yang perlu difotokopi.

“Rp. 5000 saja Pak”, begitu katanya seraya memberikan paspor saya bersama fotokopinya. Di ruangan itu saya melihat penumpang lain yang membutuhkan fotokopi juga. Saya tidak melihat suatu meja kerja di situ, paling tidak hanya terlihat bahwa ruangan itu hanya untuk mesin fotokopi. Ini benar-benar suatu ‘proyek’ yang diadakan di dalam suatu proses pelayanan masyarakat. Mengapa mesin fotokopi itu tidak diletakkan saja di dalam ruangan yang sama dengan petugas fiskal seperti yang ada di Jakarta?. Dan mengapa saya harus bayar 5000? Di Jakarta petugas melakukan fotokopi untuk penumpang dan itu gratis. Tidak semua penumpang yang membutuhkan bebas fiskal tahu bahwa mereka harus membawa fotokopi paspornya.

Ini bukan karena kota apa dan di mana kita mengajukan bebas fiskal, tapi tentang hak yang seharusnya tanpa biaya namun orang tertentu tanpa malu mengenakan tarif pada suatu pelayanan.

Buat saya ini adalah suatu jebakan. Saya lihat ada satu penumpang yang cerdik membawa fotokopi paspornya dari rumah. Mungkin dia telah diberitahu oleh temannya sebelum berangkat. Namun ternyata petugas lebih cerdik, petugas mengatakan bahwa bagian yang difotokopi tidak cukup jadi harus difotokopi ulang termasuk bagian yang lain. Artinya jasa “fotokopi” dari bapak tadi akan memiliki konsumen baru.

Buat anda yang akan melakukan perjalanan dan mengajukan bebas fiskal di waktu mendatang, saya sarankan untuk senantiasa membawa minimal 3 lembar fotokopi paspor di dalam tas anda. Selain untuk berjaga-jaga akan hal ‘proyek’ tadi, juga untuk keadaan darurat apabila anda kehilangan paspor yang asli.

Bagian paspor yang perlu difotokopi dalam pengajuan bebas fiskal:

  1. Bagian depan yang terdapat foto diri dan nomor paspor
  2. Cap imigrasi tanggal terakhir ketika anda memasuki Indonesia
  3. Cap petugas bebas fiskal sebelumnya (bila ada)
  4. Cap pelaporan diri ke konsulat/kedutaan negara setempat (di bagian belakang paspor)

Catatan: Kita bisa mengajukan bebas fiskal apabila kita memiliki ukti residensial di luar Indonesia yaitu dengan sebuah cap pelaporan diri kepada pihak wakil pemerintah Indonesia di luar negeri. Maksimum bisa digunakan sebanyak 4 kali dalam setahun (jan-dec).