turbulence.jpg

Saya sempat berargumentasi dengan seorang teman saya yang bekerja di sebuah maskapai penerbangan besar di Indonesia. Kami berdiskusi tentang turbulence dan beberapa efeknya terhadap posisi tempat duduk. Berdiskusi bahwa dengan menggunakan pesawat berbadan lebar goncangan tersebut terasa semakin halus dibanding pada saat menggunakan pesawat berbadan sedang. Ini adalah suatu pandangan dari sisi penumpang. Seperti halnya kita berjalan di atas jalan raya yang bergelombang, dengan kondisi jalan yang sama akan terasa lebih lembut ketika kita berada di dalam mobil Mercedes Benz dibanding ketika menggunakan mobil minibus sejenis Suzuki APV misalnya tanpa bermaksud untuk memojokkan suatu merek mobil di atas.

Yang menjadi topik dasar sebenarnya bagaimana turbulence tersebut mempengaruhi gerakan pesawat. Secara teknis beliau memang benar bahwa apapun jenis pesawat dan berapapun ukurannya akan mengalami goncangan yang sama pada saat melalui sebuah kekuatan turbulence yang sama. Sementara argumentasi saya bagaimana sebagai penumpang merasakan goncangan itu ketika berada di tempat duduk barisan depan, tengah atau belakang itu adalah berbeda berdasarkan pengalaman.

Namun demikian kami tidak lanjutkan perdebatan itu mengingat cara pandang yang cukup berbeda. yang ingin saya garis bawahi di artikel ini adalah bahwa setiap jenis pesawat yang mengudara tidak akan lepas dari kemungkinan mengalami turbulence pada skala yang berbeda-beda. Mengapa turbulence itu bisa terjadi?

Yang pernah saya dengar adalah karena adanya udara kosong di depan pesawat sehingga tidak ada energi udara yang ‘mengangkat’ pesawat sehingga pesawat bergerak ‘jatuh’ dengan sangat cepat. namun kekosongan itu hanya terjadi pada beberapa spot lokasi di depan yang disebabkan oleh adanay gerakan udara. Tentang detail bagaimana udara kosong itu bisa ada silahkan baca di sini.