adam_air.jpgSeperti diberitakan oleh beberapa media massa di Indonesia dan luar negeri hari ini tanggal 10 maret 2008 sebuah pesawat dari maskapai penerbangan nasional mengalami kecelakaan di bandara Hang Nadim – Batam. Apabila membaca bagaimana para penumpang sempat terjebak di dalam pesawat tersebut selama 15 menit setelah pesawat mendarat darurat, saya menjadi kurang nyaman membayangkan perasaan mereka di dalam pesawat dengan segala kepanikan yang mungkin timbul.

Apalagi ada dikabarkan pula bahwa penumpang tidak mendapatkan pelayanan yang optimal pasca kecelakaan tersebut. Hanya mendapatkan nasi bungkus dan tidak ada pemberitaan resmi ataupun semacam penanganan khusus terhadap mereka. Ternyata naik pesawat tidak lagi menjadi sebuah ekslusifitas di Indonesia. Kebanggaan dan kenyamanan sebelum dan setelah memasuki pintu pesawat tidak lagi terasa bedanya dengan sebuah metro mini. Mengapa saya sebut demikian? Ketika anda naik metro mini, kernet bis akan peduli terhadap anda yang belum membayar ongkos dan benar-benar tidak perduli terhadap penumpang yang sudah bayar dan akan turun.

Yang sangat mengherankan adalah mengapa hal ini (kecelakaan) terjadi terlalu sering pada sebuah maskapai penerbangan? Apakah mereka tidak belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya? Apakah pengawasan dari pihak berwenang yang waktu itu sempat digaungkan untuk mencabut ijin terbang hanya dilakukan selayaknya tren fashion?

Lalu mereka para penumpang apakah tidak memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik hanya karena membayar lebih murah?